Kamis, 28 April 2011

Waktu terus bergerak membawa perubahan, baik yang dikatakan positif maupun negatif, perkembangan yang terasa sangat cepat dalam kondisi masyarakat yang sebenarnya belum siap dalam mental, pendidikan, ekonomi, dan kesehatan.
Kuatnya arus budaya hidup bangsa luar (barat) yang masuk menjadi tak terbendung, dicerna begitu saja tanpa adanya usaha untuk menyaring (filterisasi), mengakibatkan banyaknya timbul permasalahan-permasalahan sosial.
Masyarakat secara tidak langsung diajak berpacu dengan waktu,yang tidak mengikuti dan tidak memiliki sajian-sajian dikatakan ketinggalan jaman,sehingga melahirkan budaya ikut-ikutan, yang tidak berdasar atas kebutuhan tetapi keinginan dan gengsi (trend), yang berakibat meningkatnya kemiskinan, karena masyarakatnya hanya mengenal saja, bukan mengetahui dan memahami fungsi, akibat fatal dari lemahnya lembaga pendidikan, biaya yang mahal, dan kurangnya minat dan kesadaran masyarakat untuk belajar, terutama kalangan usia sekolah dan mahasiswa ,sekolah (pendidikan) juga hanya menjadi trend, bukan merupakan suatu kebutuhan yang utama dan wajib untuk dikuasai, yang berbuntut banyaknya pengangguran, karena tidak memiliki kreatifitas dan mental kuat, semua menjadi instant, ingin mendapatkan sesuatu dengan cepat dan mudah, sogok sana sogok sini menjadi hal yang lumrah.

udara bergetar dalam darahku
ketika tasbih berputar dalam dzikir
wirid bertaburan memenuhi ruang
dan kau tersenyum di penanggalan

di ujung wirid tiba-tiba kau turun
dari kalender, menyatu dalam diriku
yang luluh ke dalam dirimu
selanjutnya semesta runtuh
menggumpal dalam hitungan tasbihku

: ketika jiwa tertidur
yang dekat selalu terasa jauh
padahal ia selau dekat
di bilik hati kita sendiri
[Reflection of Range and Time_@ Worshipping Grass]


Selama ini kita acapkali menganggap waktu sebagai sesuatu yang terpisah dari diri kita sendiri. Kata-kata seperti "Aku kehabisan waktu" seringkali kita dengar. Pemahaman waktu di balik kata-kata itu mengisyaratkan sesosok makhluk yang suatu saat menakutkan, tetapi di kesempatan lain menggembirakan. Bagaimana Anda sendiri menghayati waktu ? Pernahkah Anda beranggapan bahwa waktu tak lain adalah pilihan hidup kita sendiri, bahkan hidup kita sendiri sebagai manusia? Bagaimana dengan pandangan seperti ini: Waktu manusia adalah waktu kreatif. Manusia tak perlu menjadi atom, yang hanya bergetar menghitung waktu!
Bahwa ternyata dengan berkreativitas kita bisa menciptakan waktu! Dan dengan itu kita menciptakan kebebasan hidup kita! Creativity for freedom!

...
di atas sajadah aku bersujud dan semadi
yamalik kuucap seratus dua puluh satu kali
yanuruu kuucap seratus lima puluh enam kali
kuucap yaquddus, kuucap yabaari, kuucap
yarakhim
kusebut satu dzat tiada lain kecuali engkau
dengan bersimpuh kucium telapak tanganmu

dalam hatiku ruang dan waktu pun menyatu
seisi bumi langit menyebutku.
[Poem of Ascendance__@ Worshipping Grass]



Sebuah momentum tepat untuk kita melakukan refleksi dan beresolusi di awal 1432 Hijriyah ini.

Apakah Anda memiliki cukup waktu untuk melakukan semua hal yang Anda benar-benar harus lakukan kemarin, hari ini, dan esok?

Potong omong kosong dan Anda akan menemukan bahwa Anda punya banyak waktu untuk melakukan hal-hal penting - dengan beberapa tersisa untuk refleksi sedikit, meditasi, pengembangan diri, dan yang terpenting, untuk melakukan beberapa hal yang benar-benar berubah Anda di awal tahun Hijjriyah ini.
Bagaimana Anda tahu apa yang omong kosong dan apa yang tidak? Nah, dengan pikiran yang jernih dan saat ini setajam ujung pisau cukur, ia tahu perbedaan antara sesuatu yang layak dilakukan dan sesuatu yang Anda hanya perlu membiarkan lewat. Memang, pikiran yang jernih dan saat ini merupakan salah satu cara pasti untuk memastikan bahwa, tidak hanya Anda memotong crap, tapi sekaligus, saat Anda melakukan apa yang seharusnya Anda lakukan, Anda sepenuhnya melakukannya.

Kita akan cenderung berbuat salah bila tidak mau bersikap kritis pada diri sendiri. Kita harus selalu bertanya dan mempertanyakan. Bahkan malaikat, yang sangat dekat dengan Tuhan, pun bertanya!
Mereka berani mempertanyakan kebijakan Tuhan menunjuk khalifah di muka bumi: "Apakah Engkau akan jadikan di sana makhluk yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah?"


(c) facebook.com/dodedosapto

Home Sweet Home

Part 1

Suatu pagi di sebuah PAUD, sang guru memberikan tugas kepada anak-anak untuk membuat gambar keluarga. Setiap anak pun mulai menggambar. Setelah selesai, gambar-gambar dikumpulkan dan dinilai.
Hasilnya, Selin (nama lengkapnya selin dion, mirip nama penyanyi barat kan tapi ini seorang cowok...ini bener ada loh..aseli ga bohong..maklum sinetron yang mengepung hiburan tipi sampai pelosok sehingga banyak nama anak "korban sinetron")
Wokeh..kembali ke cerita suatu pagi di PAUD...
Hasilnya, Selin mendapat pujian yang luar biasa. Gambar yang dibuatnya mendapat nilai tanda bintang plus sebatang coklat dari sang guru. Betapa senangnya hatiku (hati Selin, red), gambarnya memperoleh apresiasi yang luar biasa dari gurunya.
Begitu tiba di rumah, ia pun buru-buru menunjukkan karya seninya kepada sang bunda.
Malam harinya, Selin menunggu dengan setia (tapi sambil nahan kantuk) kepulangan sang ayah. Begitu pintu diketuk dan namanya dipanggil, Selin langsung berteriak, "Ayah....Selin punya gambar bagus tentang rumah Selin dan coklat dari bu guru!" Si ayah punkaget,tetapi ikut senang dan mulai berdiskusi dengan anaknya untuk menanyakan gambar apasaja yang dibuat.
"Ini rumah kita yah...ini bunda, ini pohon,yang ini ada adik dan bibi, bagus kan?"
Sang ayah mulai mengerutkan dahi sambil bertanya, "Lho, dalam gambar ini, Ayah dimana?"
Dengan enteng Selin menjawab, " Ayah kan jarang di rumah!"

Part 2

Jupe, seorang anak yang setiap sore selalu menanti kepulangan ayahnya dari kantor untuk sekedar mengajaknya bermain.
Suatu sore,waktu itu hujan rintik (jayus banget yach..kaya' lagu), sepulang kerja,sang ayah ditanya oleh Jupe,"Ayah...ayah kerja kantoran dibayar berapa sih sebulan?"
Sembari mengeryitkan dahi si ayah menjawab, "Ya sekitar 2 juta 5 ratus ribu rupiah!"
"Kalau sehari berarti berapa, yah?" tanya Jupe lagi.
Sang ayah mulai bingung, "Seratus ribu rupiah, ada apa sih? Koq tanya gaji segala!"
Akan tetapi Jupe tetap bertanya lagi,"Kalau setengah hari berarti 50ribu rupiah dong?"
"Iya, memangnya kenapa" sahut ayah mulai jengkel.
Si anak dengan mantap mengajukan permohonan, "Gini yah! Tolong tambahin dong tabungan Jupe, lima ribu saja...soalnya Jupe sudah punya tabungan 45ribu rupiah. Rencananya, Jupe mau membeli ayah setengah hari saja supaya kita bisa pergi memancing bersama!"

Refleksi
Si Pencuri Waktu....adalah sesuatu yang menjadi kendala seorang ayah dalam membangun tatanan keluargayang tangguh dan harmonis. Kesibukkan kantor, bisnis sampingan, maupun hobi acapkali menjadi musuh dalam selimut yang tanpa disadari merongrong kesempatan emas yang kita miliki untuk bercengkama dengan anak.
Si Pencuri Waktu alih-alih atas nama masa depan keluarga, loyalitas kerja, atau untuk membiarkan asap dapur senantiasa mengepul.
Home Sweet Home...demikian pepatah populer
Bahwa rumah adalah segala-galanya bagi sebuah keluarga. Seindah-indahnya hotel, mess atau rumah orang (bahkan kekinian, mewahnya penjara) tetapi lebih indah tinggal di rumah, dimana berkumpul satu keluargayang penuh kehangatan.
Bagi seorang anak, rumah adalah jenjang pendidikan pertama sebelum menapaki pendidikan formal dan masyarakat, dimana ke dua orang tuanya adalah guru terbaiknya.
Lagi-lagi kekinian yang memunculkan anekdot...
Pada waktu anak-anak masih kecil selalu minta diperhatikan orang tuanya dan diajak main, namun sang ayah selalu punya alasan sibuk di kantor. Begitu sang ayah pensiun, tinggal sendirian di rumah minta ditemani bercakap-cakap, kembali sang anak yang anak mengatakan sibuk kuliah dan kegiatan-kegiatan lain.
[like father like son] apa yang ditabur, itu pula yang dituai.

Lantas bagaimana dengan saya dan anda?
Perlu kejernihan hati dan kebijaksanaan yang sungguh dalam mengatur waktu. Jadikan perhatian yang optimal pada tumbuh kembang anak-anak kita sebagai investasi seumur hidup yang tidak akan dilupakan trah kita kelak