Part 1
Suatu pagi di sebuah PAUD, sang guru memberikan tugas kepada anak-anak untuk membuat gambar keluarga. Setiap anak pun mulai menggambar. Setelah selesai, gambar-gambar dikumpulkan dan dinilai.
Hasilnya, Selin (nama lengkapnya selin dion, mirip nama penyanyi barat kan tapi ini seorang cowok...ini bener ada loh..aseli ga bohong..maklum sinetron yang mengepung hiburan tipi sampai pelosok sehingga banyak nama anak "korban sinetron")
Wokeh..kembali ke cerita suatu pagi di PAUD...
Hasilnya, Selin mendapat pujian yang luar biasa. Gambar yang dibuatnya mendapat nilai tanda bintang plus sebatang coklat dari sang guru. Betapa senangnya hatiku (hati Selin, red), gambarnya memperoleh apresiasi yang luar biasa dari gurunya.
Begitu tiba di rumah, ia pun buru-buru menunjukkan karya seninya kepada sang bunda.
Malam harinya, Selin menunggu dengan setia (tapi sambil nahan kantuk) kepulangan sang ayah. Begitu pintu diketuk dan namanya dipanggil, Selin langsung berteriak, "Ayah....Selin punya gambar bagus tentang rumah Selin dan coklat dari bu guru!" Si ayah punkaget,tetapi ikut senang dan mulai berdiskusi dengan anaknya untuk menanyakan gambar apasaja yang dibuat.
"Ini rumah kita yah...ini bunda, ini pohon,yang ini ada adik dan bibi, bagus kan?"
Sang ayah mulai mengerutkan dahi sambil bertanya, "Lho, dalam gambar ini, Ayah dimana?"
Dengan enteng Selin menjawab, " Ayah kan jarang di rumah!"
Part 2
Jupe, seorang anak yang setiap sore selalu menanti kepulangan ayahnya dari kantor untuk sekedar mengajaknya bermain.
Suatu sore,waktu itu hujan rintik (jayus banget yach..kaya' lagu), sepulang kerja,sang ayah ditanya oleh Jupe,"Ayah...ayah kerja kantoran dibayar berapa sih sebulan?"
Sembari mengeryitkan dahi si ayah menjawab, "Ya sekitar 2 juta 5 ratus ribu rupiah!"
"Kalau sehari berarti berapa, yah?" tanya Jupe lagi.
Sang ayah mulai bingung, "Seratus ribu rupiah, ada apa sih? Koq tanya gaji segala!"
Akan tetapi Jupe tetap bertanya lagi,"Kalau setengah hari berarti 50ribu rupiah dong?"
"Iya, memangnya kenapa" sahut ayah mulai jengkel.
Si anak dengan mantap mengajukan permohonan, "Gini yah! Tolong tambahin dong tabungan Jupe, lima ribu saja...soalnya Jupe sudah punya tabungan 45ribu rupiah. Rencananya, Jupe mau membeli ayah setengah hari saja supaya kita bisa pergi memancing bersama!"
Refleksi
Si Pencuri Waktu....adalah sesuatu yang menjadi kendala seorang ayah dalam membangun tatanan keluargayang tangguh dan harmonis. Kesibukkan kantor, bisnis sampingan, maupun hobi acapkali menjadi musuh dalam selimut yang tanpa disadari merongrong kesempatan emas yang kita miliki untuk bercengkama dengan anak.
Si Pencuri Waktu alih-alih atas nama masa depan keluarga, loyalitas kerja, atau untuk membiarkan asap dapur senantiasa mengepul.
Home Sweet Home...demikian pepatah populer
Bahwa rumah adalah segala-galanya bagi sebuah keluarga. Seindah-indahnya hotel, mess atau rumah orang (bahkan kekinian, mewahnya penjara) tetapi lebih indah tinggal di rumah, dimana berkumpul satu keluargayang penuh kehangatan.
Bagi seorang anak, rumah adalah jenjang pendidikan pertama sebelum menapaki pendidikan formal dan masyarakat, dimana ke dua orang tuanya adalah guru terbaiknya.
Lagi-lagi kekinian yang memunculkan anekdot...Pada waktu anak-anak masih kecil selalu minta diperhatikan orang tuanya dan diajak main, namun sang ayah selalu punya alasan sibuk di kantor. Begitu sang ayah pensiun, tinggal sendirian di rumah minta ditemani bercakap-cakap, kembali sang anak yang anak mengatakan sibuk kuliah dan kegiatan-kegiatan lain.
[like father like son] apa yang ditabur, itu pula yang dituai.
Lantas bagaimana dengan saya dan anda?
Perlu kejernihan hati dan kebijaksanaan yang sungguh dalam mengatur waktu. Jadikan perhatian yang optimal pada tumbuh kembang anak-anak kita sebagai investasi seumur hidup yang tidak akan dilupakan trah kita kelak
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar