Waktu terus bergerak membawa perubahan, baik yang dikatakan positif maupun negatif, perkembangan yang terasa sangat cepat dalam kondisi masyarakat yang sebenarnya belum siap dalam mental, pendidikan, ekonomi, dan kesehatan.
Kuatnya arus budaya hidup bangsa luar (barat) yang masuk menjadi tak terbendung, dicerna begitu saja tanpa adanya usaha untuk menyaring (filterisasi), mengakibatkan banyaknya timbul permasalahan-permasalahan sosial.
Masyarakat secara tidak langsung diajak berpacu dengan waktu,yang tidak mengikuti dan tidak memiliki sajian-sajian dikatakan ketinggalan jaman,sehingga melahirkan budaya ikut-ikutan, yang tidak berdasar atas kebutuhan tetapi keinginan dan gengsi (trend), yang berakibat meningkatnya kemiskinan, karena masyarakatnya hanya mengenal saja, bukan mengetahui dan memahami fungsi, akibat fatal dari lemahnya lembaga pendidikan, biaya yang mahal, dan kurangnya minat dan kesadaran masyarakat untuk belajar, terutama kalangan usia sekolah dan mahasiswa ,sekolah (pendidikan) juga hanya menjadi trend, bukan merupakan suatu kebutuhan yang utama dan wajib untuk dikuasai, yang berbuntut banyaknya pengangguran, karena tidak memiliki kreatifitas dan mental kuat, semua menjadi instant, ingin mendapatkan sesuatu dengan cepat dan mudah, sogok sana sogok sini menjadi hal yang lumrah.
udara bergetar dalam darahku
ketika tasbih berputar dalam dzikir
wirid bertaburan memenuhi ruang
dan kau tersenyum di penanggalan
di ujung wirid tiba-tiba kau turun
dari kalender, menyatu dalam diriku
yang luluh ke dalam dirimu
selanjutnya semesta runtuh
menggumpal dalam hitungan tasbihku
: ketika jiwa tertidur
yang dekat selalu terasa jauh
padahal ia selau dekat
di bilik hati kita sendiri
[Reflection of Range and Time_@ Worshipping Grass]
Selama ini kita acapkali menganggap waktu sebagai sesuatu yang terpisah dari diri kita sendiri. Kata-kata seperti "Aku kehabisan waktu" seringkali kita dengar. Pemahaman waktu di balik kata-kata itu mengisyaratkan sesosok makhluk yang suatu saat menakutkan, tetapi di kesempatan lain menggembirakan. Bagaimana Anda sendiri menghayati waktu ? Pernahkah Anda beranggapan bahwa waktu tak lain adalah pilihan hidup kita sendiri, bahkan hidup kita sendiri sebagai manusia? Bagaimana dengan pandangan seperti ini: Waktu manusia adalah waktu kreatif. Manusia tak perlu menjadi atom, yang hanya bergetar menghitung waktu!
Bahwa ternyata dengan berkreativitas kita bisa menciptakan waktu! Dan dengan itu kita menciptakan kebebasan hidup kita! Creativity for freedom!
...
di atas sajadah aku bersujud dan semadi
yamalik kuucap seratus dua puluh satu kali
yanuruu kuucap seratus lima puluh enam kali
kuucap yaquddus, kuucap yabaari, kuucap
yarakhim
kusebut satu dzat tiada lain kecuali engkau
dengan bersimpuh kucium telapak tanganmu
dalam hatiku ruang dan waktu pun menyatu
seisi bumi langit menyebutku.
[Poem of Ascendance__@ Worshipping Grass]
Sebuah momentum tepat untuk kita melakukan refleksi dan beresolusi di awal 1432 Hijriyah ini.
Apakah Anda memiliki cukup waktu untuk melakukan semua hal yang Anda benar-benar harus lakukan kemarin, hari ini, dan esok?
Potong omong kosong dan Anda akan menemukan bahwa Anda punya banyak waktu untuk melakukan hal-hal penting - dengan beberapa tersisa untuk refleksi sedikit, meditasi, pengembangan diri, dan yang terpenting, untuk melakukan beberapa hal yang benar-benar berubah Anda di awal tahun Hijjriyah ini.
Bagaimana Anda tahu apa yang omong kosong dan apa yang tidak? Nah, dengan pikiran yang jernih dan saat ini setajam ujung pisau cukur, ia tahu perbedaan antara sesuatu yang layak dilakukan dan sesuatu yang Anda hanya perlu membiarkan lewat. Memang, pikiran yang jernih dan saat ini merupakan salah satu cara pasti untuk memastikan bahwa, tidak hanya Anda memotong crap, tapi sekaligus, saat Anda melakukan apa yang seharusnya Anda lakukan, Anda sepenuhnya melakukannya.
Kita akan cenderung berbuat salah bila tidak mau bersikap kritis pada diri sendiri. Kita harus selalu bertanya dan mempertanyakan. Bahkan malaikat, yang sangat dekat dengan Tuhan, pun bertanya!
Mereka berani mempertanyakan kebijakan Tuhan menunjuk khalifah di muka bumi: "Apakah Engkau akan jadikan di sana makhluk yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah?"
(c) facebook.com/dodedosapto
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar